Sunday, 5 March 2017

Diare Penyebab Kematian Nomor 2 Pada Anak

Sumber Gambar : http://diarepadaanak.com
Penyakit yang selama ini kita anggap penyakit sepele, ternyata lagi-lagi dapat mengancam nyawa. Terdapat suatu fakta yang bersumber dari The Facts Of Life yang mengatakan bahwa diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada anak-anak setelah pneumonia.

Ternyata kita tidak boleh menggangap remeh penyakit diare ini. Diare mungkin bagi sebagian besar orang dianggap penyakit ringan, padahal diare pada anak-anak dapat berlangsung lebih parah dan yang dikhawatirkan adalah dampak komplikasinya seperti dehidrasi.

Terdapat beberapa gejala diare seperti adanya perubahan frekuensi pada BAB (Buang Air Besar) diatas normal dan juga konsistensi bentuk dari BAB tersebut. Jadi sebaiknya kita harus memahami pola BAB kita yang biasanya, terutama pada anak atau Bayi. Karena yang paling berbahaya adalah terjadinya dehidrasi atau kekurangan cairan dan kekurangan garam serta biasanya disertai muntah.

Jadi apabila sang anak muntah, maka akan keluar asupan garam dalam tubuh, begitupun pada saat BAB yang juga akan mengeluarkan asupan cairan dan garam pada tubuh. Hal itulah yang menyebabkan anak atau bayi kekurangan cairan dan elektrolit yang dampaknya dapat mengakibatkan kejang pada anak dan itu merupakan sesuatu yang bahaya sekali.

Salah satu penyebab yang paling berperan dalam menimbulkan diare pada anak atau bayi adalah makanan yang dikonsumsi. Karena bisa saja makanan yang dikonsumsi kurang bersih, tidak higienis atau juga bisa karena faktor alergi. Jadi dapat disimpulkan bahwa sebenarnya penyebab utama timbulnya diare pada anak adalah virus.

Diare yang terjadi memang sekitar 80% dapat sembuh sendiri, tetapi juga ada diare yang fasesnya atau kotorannya terdapat darah atau lendir, itulah yang namanya diare disentri. Diare disenti dapat disebabkan oleh bakteri, parasit atau amoeba. Hal itulah yang sebenarnya terkadang membuat anak yang terkena penyakit diare disentri ini menjadi keram dan sakit perut hebat.

Maka dari itu, kita harus lebih mempelajari lagi yang namanya P3K atau upaya pertolongan pertama ketika sang anak atau bayi mengalami diare. Penanganan yang tepat sebelum ke dokter adalah dengan memberikan minum yang cukup atau dihidrasi secara terus menerus.

Frekuensi yang benar dalam memberikan minum pada saat anak atau bayi mengalami diare yaitu pada anak yang sudah agak besar disarankan untuk diberikan minum sebanyak 3 kali sehari atau setiap 2 jam sekali harus mendapatkan cairan sebanyak 60 ml, sedangkan untuk bayi sebaiknya sering-seringlah di beri ASI (Air Susu Ibu).

Terkadang juga mungkin ada orang tua dari sang anak terutama ibu-ibu yang ketika anak atau bayinya sedang empasi dan sudah diatas 6 bulan, maka agar berhenti diarenya, diberilah anaknya pisang. Padahal Hal tersebut tidak disarankan atau tidak direkomendasikan.

Kebanyakan orang awam berfikir bahwa pisang yang belum matang memiliki rasa yang sepet dapat membuat diare pada anak berhenti, padahal itu tidak benar. Justru apabila kita memberikan pisang yang masih hijau dan rasanya sepet itu akan memperparah diare pada sang anak, karena di dalam pisang tersebut mengadung kandungan serat yang tinggi yang justru dapat menambah frekuensi BAB pada anak.

Ketika sang anak sedang mengalami diare sebaiknya hindari makanan yang manis-manis karena itu juga dapat memperburuk kondisi dari diarenya. Apabila diare pada anak 1 sampai 2 hari tidak kunjung sembuh, maka dianjurkan untuk pergi ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

Untuk menjadikan rongga usus pada anak tersebut menjadi sehat, biasanya dokter akan memberikan prebiotik dan probiotik. Dan sangat disarankan terutama kepada ibu-ibu yang memiliki anak yang masih usia dini untuk tidak memberikan yogurt atau minuman orang dewasa yang mengandung prebiotik. Ini sangat tidak diperbolehkan dan sangat tidak dianjurkan.

No comments:

Post a Comment